Indonesia dan Tantangan Keamanan Indo-Pasifik
thia
UNPAD Staff Writer

[ GradSchool Unpad ] Prof .Drs. Yanyan Mochamad Yani, MAIR.,Ph.D. sebagai Wakil Rektor IV, yang mengurusi aspek tata kelola dan regulasi pendukung kebijakan di universitas. Tapi kali ini, beliau berbicara sebagai pribadi yang utuh, bercerita tentang masa kecil yang berkesan, pengalaman hidup sebagai akademisi dan pandangannya terkait keilmuan hubungan internasional mengenai Indonesia dan Tantangan Keamanan Indo-Pasifik.
IndoPasifik adalah kawasan yang meliputi kawasan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Potensi ekonomi negara di kawasan ini sangat besar. Dalam konteks kewaspadaan nasional, kita perlu memperhatikan fenomena infiltrasi budaya, seperti K-Pop atau J-Pop. Kedua hal ini akan sedikit banyak mempengaruhi gaya hidup dan perilaku konsumen di Indonesia. Saat ini kewaspadaan perlu ditingkatkan, sebagai contoh pola kerja sama antara negara Cina dan Srilangka. Ada klausul yang menyatakan bahwa Cina dapat menguasai sampai 100 tahun terhadap aset yang dibangun dengan pinjaman dari Cina yang tidak dapat dibayar oleh pihak Srilangka. Kondisi ini harus diperhatikan agar jangan terjadi di Indonesia.
Saat ini di kawasan Indo-Pasifik ada pertarungan pengaruh dan kekuasaan antara Cina dan Amerika. Indonesia menjadi pusat perhatian di kawasan IndoPasifik dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Perhatian kedua negara adidaya terhadap Indonesia lebih besar daripada terhadap ASEAN. Pemerintah sudah sangat cerdik mengantisipasi, dengan mendorong mobilitas barat dan timur melalui jalur laut. Yang perlu menjadi perhatian adalah antisipasi dan proteksi terkait mobilitas tenaga kerja. Di Thailand, ada persyaratan kemampuan bahasa Thailand yang halus bagi tenaga kerja asing. Tapi di kita, persyaratan itu belum sepenuhnya ditegakkan. Untuk itu, semangat ke-Indonesian dalam persatuan dan kesatuan harus diutamakan. Negara lain di kawasan IndoPasifik sangat memperhatikan berbagai kebijakan di Indonesia. Beberapa negara khawatir misalnya bila sampai dibangun PLTN di Kalimantan. Demikian pula bila program bela negara berhasil dilaksanakan.
Prof Yanyan ternyata dengan keahliannya terlibat dalam penugasan seperti secret service, dan terlibat dalam working group yang menghasilkan bantuan persenjataan strategis dari Australia. Itulah barangkali keuntungan komparatif sebagai alumni Australia dan pakar hubungan internasional dalam aspek kebijakan strategis.
Prof Yanyan melihat peluang kerja sama dalam konteks kawasan, mengusulkan adanya pengembangan peminatan berdasarkan kawasan seperti Asia Afrika, Amerika, Australia, atau IndoPasifik. Banyak peluang dengan melakukan pendekatan multi-, dan trans-disiplin dan melibatkan selain akademisi juga praktisi. Salah satu peminatan yang dipikirkan akan menarik adalah Intelligent Strategic yang didukung oleh berbagai keilmuan. Sasaran peminatan ini bisa dari kalangan politisi, militer, bisnis dan lain-lain. Saat ini baru ada Pusat Studi ASEAN yang ada di FISIP. Kebutuhan ke depannya sangat besar, seiring dengan pendekatan knowledge-based economy dan knowledge management.