Riset Kolaboratif Ungkap Pentingnya Ekosistem Blue Carbon dalam Adaptasi Iklim di Kawasan Segitiga Terumbu Karang
27 Mei 2025- Peneliti dari Universitas Padjadjaran, Dr. Kevin Muhamad Lukman, turut berkontribusi dalam artikel review strategis berjudul “Blue carbon ecosystems in the Coral Triangle: A perceptive approach to climate adaptation”, yang dipublikasikan di jurnal APN Science Bulletin tahun 2025. Artikel ini merupakan sintesis dari sembilan studi dalam kerangka proyek Asia-Pacific Network for Global Change Research (APN) yang berfokus pada peningkatan kapasitas pemangku kepentingan lokal dalam pengelolaan ekosistem blue carbon (BC) untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.
Mengapa riset ini penting?
Riset ini menegaskan bahwa ekosistem blue carbon seperti mangrove, lamun, dan rawa pesisir memegang peran vital dalam menyerap karbon dan melindungi wilayah pesisir dari dampak iklim ekstrem. Namun, keberlanjutan ekosistem ini kini menghadapi tekanan ganda dari aktivitas manusia dan kerentanan alam. Studi ini tidak hanya menyoroti kondisi degradasi ekosistem, tetapi juga memetakan persepsi komunitas lokal, memahami tantangan sosial-ekonomi dalam pengelolaan pariwisata berkelanjutan, serta merumuskan tren riset dan kebijakan pengelolaan kawasan pesisir berbasis masyarakat.
Hal yang sangat menonjol dari riset ini adalah pendekatannya yang menggabungkan dimensi ekologi dan sosial secara holistik. Temuan utama menegaskan pentingnya pelibatan masyarakat lokal dalam konservasi dan urgensi pelatihan praktis seperti penggunaan Geographic Information Systems (GIS) untuk meningkatkan kapasitas komunitas dalam memantau dan mengelola ekosistem BC secara mandiri.
Kontribusi terhadap SDGs:
Studi ini memberikan kontribusi besar terhadap SDG 13 (Aksi Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Lautan), sekaligus memperkuat SDG 11 (Komunitas Berkelanjutan) dan SDG 17 (Kemitraan Global) melalui kolaborasi lintas negara. Riset ini juga menjadi referensi penting bagi pembuat kebijakan dan lembaga konservasi dalam merancang rencana adaptasi berbasis ekosistem dan inklusif terhadap suara masyarakat lokal.
Artikel lengkap tersedia di APN Science Bulletin.